Pria yg mengaku datang atas nama cinta dan kesetian..
Begitulah covernya.
Entah kurasa itu sangat palsu..
Hidupnya penuh kepalsuan
Rasa dan asanya seperti tak pernah melekat dalam raganya.
Pria yg kurasa tak mempunyai tujuan hidup.
Hidupnya terlalu rumit dan sayangnya aku termasuk di dalamnya entah sebagai peran apa..
mungkin hanya figuran.
Dia pria yg baik..
sangat baik bahkan dibanding smua pria yg pernah ku kenal.
Aku tak bisa menilai secara terperinci. Hanya itu yg kutau.
Aku tak ingin seakan aku tau segalanya tentangnya tapi ini hanya berdasarkan apa yang kurasa saja.
Dia Pria yg mengajarkan ku berbagai pengetahuan politik dan sosial.
Pria cerdas yg tak banyak bicara.
Pria lemah lembut pertama yg membuatku jatuh hati padanya tetapi aku selalu menyangkalnya bahwa benar adanya jika diriku memang menyukainya..
... yaa.. menyukai rasa nyaman ketika bersamanya.
Dan lagi lagi Tuhan berkehendak lain.
Semuanya hanya sekelebat mimpi..
...mimpi yg tak akan pernah terjadi.
Tak bisakah mimpi itu terjadi?
Sekalipun terjadi, aku bahkan tak ingim terjaga untuk itu.
Aku lelah..
Aku ingin sekali membuatnya bahagia, mengerti arti hidup dan bisa merasakan betapa bersyukurnya hidup di dunia ini.
Inginku menikmati indah dunia ini bersamanya, membuatnya senang.
Entah pikiran apa ini..
Mungkin rasa kasihan. Tapi ku rasa dy tak suka dikasihani.
Mungkin dy butuh seseorang yg lebih dari aku..
Lebih cantik pastinya..
Karna aku tak punya itu.
Aku hanya punya segelintir kebahagiaan untuknya namun rasanya dia enggan memberi hatinya untuk ku.
Entah aku yg terlalu percaya diri ataukah memang rasa ini memang benar benar ada.
Kurasa bahwa dia merasa nyaman denganku entah sebagai apa.
Aku tak ingin tau.
Karna sudah terlalu banyak pertanyaan yg berkecamuk dikepalaku yg bahkan aku sudah muak untuk ingin tau jawabannya.
Dia pria yg mulai merubah kebiasaan burukku.
Membuatku lebih baik.
Menjadi seorang wanita.
Ya wanita yg mempunyai tutur kata yg baik dan halus.
Dia meluaskan pandanganku, pikiranku dan pengetahuannku.
Aku yakin dia sendiri bahkan tak sadar untuk itu.
Untuk semua waktunya bersamaku. Yang mengubahku hingga kesekian fase..
Mungkin baginya aku hanya selembar kertas tissu yg akan dia gunakan ketika dia menangis. Dan tak kan lebih dr itu.
Suatu ketika dia mengatakan sesuatu yg tak biasa.
Jawaban yg seharusnya tak ku inginkan, bahkan ku tak ingin dengar.
Entah mau sampai kapan hidupnya seperti itu.
Aku hanya tak tega, yah tak tega melihatnya terkadang sendiri dg kesedihannya.
Dia mengatakan padaku bahwa dirinya takkan merasa pantas bersamaku..
Dia takut mengecewakanku.
Entah dasar apa yg membuatnya melontarkan kata kata itu.
Kecewa?
Untuk hal apa yg bahkan hubungannya pun belum pernah kita lalui.
Sedikit mengernyitkan dahi dan berpikir bahwa pria ini bahkan hidup pun tak tau ia akan berjalan kemana, sudah bisa meraba masa depan yg belum ato bahkan tak ia jalani sedikitpun..
0 komentar:
Posting Komentar